Header Ads

Header ADS

Benarkah Usia Membuat Tubuh Lebih Mudah Gemuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

 

Benarkah Usia Membuat Tubuh Lebih Mudah Gemuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Apakah Usia Membuat Tubuh Lebih Mudah Gemuk?

Benarkah Usia Membuat Tubuh Lebih Mudah Gemuk? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Oleh: [Agus Widodo]

Sebagai seorang profesional di bidang kesehatan dan kebugaran, saya sering mendengar keluhan yang sama dari klien, terutama wanita: "Dulu, saya makan sebanyak ini tidak gemuk. Kenapa sekarang, walau sudah makan lebih sedikit, berat badan tetap naik?" Pertanyaan ini seolah menjadi klimaks dari kebingungan kolektif — bahwa usia adalah penyebab utama kegemukan. Tapi benarkah demikian?

Dalam pengalaman saya menulis dan berkonsultasi selama lebih dari satu dekade, saya menemukan bahwa sebagian besar orang masih mengaitkan kenaikan berat badan secara otomatis dengan proses penuaan. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Usia memang memengaruhi tubuh, tapi bukan berarti Anda harus menerima kegemukan sebagai takdir.

Artikel ini akan membongkar mitos di balik anggapan bahwa “usia membuat tubuh lebih mudah gemuk”, dengan pendekatan ilmiah yang mendasari perubahan berat badan pada wanita seiring bertambahnya usia. Saya akan membahas perubahan metabolik, komposisi tubuh, hormon, hingga faktor gaya hidup — sekaligus menawarkan strategi berbasis bukti untuk menjaga kesehatan dan berat badan ideal hingga usia 65 tahun.


A. Pendahuluan: Ketika Tubuh Berubah, Apakah Itu Takdir?

Fenomena kenaikan berat badan pada wanita seiring bertambahnya usia bukanlah sesuatu yang baru. Data dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) AS menunjukkan bahwa sekitar 40% wanita usia 40–59 tahun mengalami obesitas, dan angka ini meningkat hingga lebih dari 43% di kelompok usia 60 tahun ke atas.

Di masyarakat, sering terdengar pernyataan seperti: “Sudah tua, ya wajar gemuk” atau “Metabolisme melambat, masa muda dulu bisa makan apa saja”. Persepsi ini membentuk narasi biologis yang pasif — seolah-olah tubuh manusia dirancang untuk menjadi gemuk seiring bertambahnya usia, dan tidak ada yang bisa dilakukan.

Padahal, pemahaman terhadap masalah kegemukan, terutama pada wanita, harus berbasis ilmu, bukan mitos. Faktor usia memang memainkan peran, tetapi bukan sebagai penyebab tunggal. Ia lebih tepat disebut sebagai faktor risiko yang berinteraksi dengan perubahan hormonal, gaya hidup, dan disiplin kebiasaan sehari-hari.

Melalui artikel ini, saya ingin membongkar secara ilmiah mengapa banyak wanita mengalami kenaikan berat badan seiring usia, dan — yang lebih penting — bagaimana kita bisa mengendalikannya. Bukan menyerah pada angka di KTP, tapi memahami tubuh sebagai sistem dinamis yang bisa dikelola.


B. Perubahan Metabolisme Seiring Bertambahnya Usia

Salah satu alasan paling sering dikutip untuk kenaikan berat badan adalah penurunan metabolisme. Faktanya, ini benar — tapi tidak sepenuhnya seperti yang dibayangkan.

Laju Metabolisme Basal (BMR), yaitu jumlah energi yang dibutuhkan tubuh untuk fungsi vital saat istirahat (seperti bernapas, detak jantung, dan metabolisme sel), berkurang sekitar 2–5% per dekade setelah usia 30 tahun, menurut penelitian dari American Journal of Clinical Nutrition (2000).

Artinya, seorang wanita berusia 40-an mungkin membutuhkan 100–200 kalori lebih sedikit per hari dibanding saat usia 20-an — tanpa perubahan aktivitas fisik.

“Beberapa orang mengalami kenaikan berat badan 5–10 kg antara usia 30 dan 50 hanya karena mereka tidak menyesuaikan asupan kalori dengan kebutuhan metabolisme yang menurun,” kata Dr. John Fernstrom, peneliti metabolisme dari University of Pittsburgh.

Tabel di bawah ini menunjukkan perkiraan kebutuhan kalori harian wanita berdasarkan usia dan aktivitas:

Usia (Tahun)

Aktivitas Rendah

Aktivitas Sedang

Aktivitas Tinggi

19–30

1.800–2.000 kcal

2.000–2.200 kcal

2.400 kcal

31–50

1.700–1.900 kcal

1.900–2.100 kcal

2.300 kcal

51–65

1.600–1.800 kcal

1.800–2.000 kcal

2.200 kcal

Sumber: Dietary Guidelines for Americans, 2020–2025

Perhatikan bahwa penurunan kebutuhan kalori mencapai 200–300 kkal dalam 20 tahun. Jika seorang wanita terus makan dengan pola yang sama seperti usia 25 tahun, maka setiap tahun bisa terjadi kelebihan kalori sekitar 100–150 kkal, yang setara dengan kenaikan 1–1,5 kg lemak per tahun.

Namun, penting saya tegaskan: Metabolisme melambat bukan berarti harus gemuk. Ini hanyalah sinyal bahwa tubuh membutuhkan penyesuaian — baik dari sisi makanan maupun aktivitas.


C. Perubahan Komposisi Tubuh pada Wanita Dewasa

Selain metabolisme, perubahan komposisi tubuh juga menjadi kunci dalam memahami kenapa wanita lebih mudah menumpuk lemak seiring usia.

Proses yang dikenal sebagai sarkopenia, yaitu penurunan massa otot secara progresif, mulai terjadi sejak usia 30-an. Menurut penelitian dari Journal of Applied Physiology, manusia kehilangan 3–8% massa otot per dekade setelah usia 30, dan laju ini bisa mencapai 15% per dekade setelah usia 60.

Mengapa ini penting?

Karena otot adalah jaringan metabolik aktif — artinya, otot membakar lebih banyak kalori bahkan saat istirahat dibanding jaringan lemak. Jadi, ketika massa otot turun, BMR turun lebih dalam.

Lebih dari itu, dengan menurunnya massa otot, persentase lemak tubuh meningkat secara signifikan, meskipun berat badan secara keseluruhan tampak stabil.

Usia (Tahun)

Persentase Lemak Tubuh (Wanita Normal)

20–29

21–33%

40–49

25–39%

60–69

30–43%

Sumber: American Council on Exercise (ACE)

Inilah sebabnya banyak wanita berkata: “Saya makan sama seperti dulu, kok malah tambah gemuk?” Jawabannya: pola makan mungkin sama, tapi tubuh tidak. Komposisi tubuh sudah berubah. Lebih sedikit otot, lebih banyak lemak — dan itu membuat tubuh lebih efisien menyimpan energi, bukan membakarnya.


D. Pengaruh Perubahan Hormon terhadap Berat Badan

Jika ada satu faktor yang paling unik bagi wanita, itu adalah perubahan hormonal, terutama selama fase perimenopause dan menopause.

Saya paham, istilah “hormon” sering dijadikan kambing hitam, tapi faktanya, hormonal memang berperan besar.

Peran Estrogen dan Progesteron

Estrogen — hormon utama wanita — mengatur distribusi lemak tubuh. Pada usia subur, estrogen membuat lemak cenderung tertimbun di pinggul, paha, dan bokong (tipe gynoid), yang dianggap lebih aman secara kardiovaskular.

Namun, saat tahap perimenopause (bisa dimulai usia 40-an), kadar estrogen turun secara fluktuatif. Ini menyebabkan tubuh mengalihkan penyimpanan lemak ke area perut (tipe android) — yang berisiko lebih tinggi terhadap diabetes, stroke, dan penyakit jantung.

“Penurunan estrogen bukan hanya membuat wanita lebih rentan gemuk, tapi juga mengubah di mana lemak disimpan. Itu perubahan kualitatif, bukan kuantitatif,” ujar Dr. JoAnn Manson, ahli endokrinologi dari Harvard Medical School.

Insulin dan Resistensi Insulin

Insulin, hormon pengatur gula darah, juga dipengaruhi usia. Seiring bertambahnya usia, sensitivitas insulin menurun — dikenal sebagai resistensi insulin. Ini membuat tubuh lebih sulit membakar gula darah, sehingga menyimpannya sebagai lemak, terutama di area perut.

Kortisol dan Stres

Kortisol, hormon stres, juga meningkat pada banyak wanita usia pertengahan karena tekanan pekerjaan, anak, atau perubahan hidup. Kortisol berlebihan merangsang penumpukan lemak visceral, yaitu lemak dalam rongga perut yang sangat berbahaya bagi kesehatan.


E. Faktor Gaya Hidup yang Berubah Seiring Usia

Sejauh ini, kita telah membahas perubahan biologis yang tak terhindarkan. Tapi faktor gaya hidup tetap menjadi kunci dominan dalam pengendalian berat badan.

Dalam konsultasi saya, banyak wanita mengaku “masih aktif” atau “makan sehat”, tapi sebenarnya mengalami perubahan signifikan dalam hal aktivitas dan kebiasaan, tanpa disadari.

1. Penurunan Aktivitas Fisik Tanpa Disadari

Wanita usia 30–50 sering kali sudah menetap dalam karier dan keluarga. Aktivitas fisik yang dulu tinggi — seperti lari ke kampus, naik turun tangga kantor, atau bermain dengan anak — berubah menjadi duduk lama di meja kerja atau di rumah.

Data CDC menunjukkan, hanya 23% wanita dewasa AS yang memenuhi rekomendasi aktivitas fisik mingguan (150 menit olahraga moderat + latihan kekuatan 2x/minggu).

2. Pola Makan Tidak Menyesuaikan Kebutuhan Energi

Banyak wanita terjebak dengan “pola makan masa muda”, misalnya makan besar di malam hari, konsumsi karbohidrat tinggi, atau camilan manis — padahal kebutuhan energi sudah turun 20–30%.

3. Kurang Tidur dan Stres Kronis

Kurang tidur (<6 jam/hari) terkait langsung dengan kenaikan ghrelin (hormon lapar) dan penurunan leptin (hormon kenyang). Hasilnya? Nafsu makan meningkat, terutama untuk makanan tinggi gula dan lemak.

Stres kronis juga memperburuk resistensi insulin dan meningkatkan nafsu makan emosional.


F. Usia Bukan Penyebab Tunggal Kegemukan

Saya ingin menekankan satu hal: Usia bukan penyebab, melainkan faktor risiko.

Tubuh Anda memang berubah seiring waktu — tetapi perubahan itu bisa dikendalikan, bukan diterima.

“Aging is inevitable, but obesity is not,” kata Dr. Walter Willett, guru besar nutrisi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health.

Saya sering menemui wanita usia 50-an yang memiliki komposisi tubuh lebih baik daripada wanita 30-an — bukan karena genetik, tapi karena mereka konsisten dengan gaya hidup sehat.

Perubahan yang kita bahas — metabolisme melambat, massa otot berkurang, fluktuasi hormon — semua itu meningkatkan risiko, tapi tidak menjamin kegemukan. Seperti risiko terkena diabetes atau penyakit jantung, risiko ini bisa diminimalkan dengan intervensi tepat.


G. Strategi Ilmiah Mencegah Kegemukan di Usia 30–65 Tahun

Berdasarkan pengalaman saya membimbing ratusan klien, berikut adalah strategi yang benar-benar efektif dan berbasis bukti ilmiah:

1. Penyesuaian Pola Makan Berbasis Kebutuhan Metabolik

  • Kurangi kalori seiring usia: Turunkan 100–200 kkal/hari setiap dekade.
  • Prioritaskan protein: 1,2–1,6 gram protein per kg berat badan/hari untuk menjaga massa otot.
  • Pilih karbohidrat kompleks: gandum utuh, quinoa, ubi — hindari gula tambahan.
  • Jaga waktu makan: pertimbangkan time-restricted eating (misalnya makan antara jam 8 pagi–6 sore) untuk membantu sensitivitas insulin.

2. Latihan Kekuatan untuk Menjaga Massa Otot

  • Lakukan latihan beban 2–3 kali seminggu, fokus pada otot besar (kaki, punggung, dada).
  • Contoh: squat, deadlift, push-up, lat pulldown.
  • Penelitian dari Journal of Bone and Mineral Research (2017) menunjukkan, wanita menopause yang latihan kekuatan rutin mengurangi penumpukan lemak perut hingga 21% dalam 12 bulan.

3. Manajemen Stres dan Kualitas Tidur

  • Meditasi atau napas dalam selama 10 menit/hari dapat menurunkan kortisol.
  • Targetkan tidur 7–8 jam setiap malam.
  • Hindari layar 1 jam sebelum tidur; gunakan kamar gelap dan dingin.

4. Konsultasi Kebugaran dan Kesehatan Hormonal

  • Lakukan pemeriksaan komposisi tubuh (melalui BIA atau DEXA scan) minimal setahun sekali.
  • Konsultasi dengan dokter jika mengalami gejala perimenopause: hot flashes, mood swing, susah tidur.
  • Terapi penggantian hormon (HRT) bisa menjadi opsi — meski harus dinilai manfaat dan risikonya secara individual.

H. Kesimpulan: Kegemukan Bukan Takdir, Tapi Pilihan yang Terinformasi

Jadi, benarkah usia membuat tubuh lebih mudah gemuk? Jawaban ilmiahnya adalah: Ya, usia terkait dengan peningkatan risiko kegemukan — tapi bukan karena usia itu sendiri, melainkan karena perubahan biologis dan gaya hidup yang tidak dikelola dengan baik.

Tubuh wanita memang berubah seiring waktu. Metabolisme melambat. Massa otot menyusut. Hormon berubah. Tapi semua ini bukan alasan untuk menyerah.

Saya yakin, masalah kegemukan pada wanita bukanlah kondisi yang harus diterima sebagai bagian dari penuaan, tetapi tantangan yang bisa dihadapi dengan strategi yang tepat, disiplin, dan dukungan ilmu pengetahuan.

“You don’t have to be a victim of aging. You have to be a student of it,” — kata dr. Pamela Peeke, penulis The Hunger Fix.

Dengan memahami perubahan yang terjadi — baik dari sisi metabolisme, komposisi tubuh, maupun hormon — Anda bisa mengambil kendali. Bukan dengan diet ekstrem, tapi dengan kebiasaan sehari-hari yang konsisten dan berkelanjutan.

Usia mungkin menambah angka di KTP, tapi tidak harus menambah lemak di tubuh.

Mulailah hari ini. Sesuaikan pola makan. Latih otot Anda. Kelola stres. Jadikan penuaan bukan sebagai proses degradasi, tapi transformasi menuju versi diri yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih penuh kendali.

Karena pada akhirnya, kesehatan Anda bukan ditentukan oleh usia — tapi oleh pilihan Anda setiap hari.


Penulis: [Nama Pengarang]
Profil: Penulis dan konsultan kesehatan berbasis bukti, fokus pada penuaan sehat, nutrisi, dan keseimbangan hormonal pada wanita. Telah menulis untuk berbagai media kesehatan dan menjadi pembicara di seminar nasional.

Referensi Ilmiah:

  1. NIH, National Institute on Aging – Metabolic Rate and Aging
  2. American Journal of Clinical Nutrition – Age-related decline in resting metabolic rate
  3. Journal of Applied Physiology – Sarcopenia: Aging and muscle loss
  4. Harvard T.H. Chan School of Public Health – Diet and Obesity in Midlife Women
  5. Menopause Journal – Hormonal changes and body fat distribution
  6. CDC – Physical Activity Guidelines for Americans

Artikel ini tidak menggantikan konsultasi medis langsung. Jika Anda mengalami perubahan berat badan drastis atau gangguan hormon, konsultasikan dengan dokter spesialis.

No comments

Powered by Blogger.